WAJIB DI KUNJUNGI WEB PORTAL PENDIDIKAN INDONESIA MJeducation.co

Popular Posts

MLM-pun Ikut Beriklan di Televisi

Saturday, 18 May 2013

Sudah lama sebenarnya ingin menulis mengenai fenomena pergeseran strategi perusaan yang pada awalnya menganut strategi multi level marketing (MLM) tanpa iklan di televisi. Simpang siur isu yang beredar di masyarakat, bagi para member produk mlm yang beriklan di televisi mereka merasa bangga dan merasa terbantu dengan iklan, namun tak jarang iklan di televisi ini digunakan pesaingnya untuk menjatuhkan dengan menebar isu, pasang iklan di televisi karena produknya tidak laku.

Beberapa perusahaan MLM yang pernah saya lihat penampakannya di televisi, antara lain: Tiansi, upperware, Sophie Martin, dan yang baru semalam saya lihat Oriflame.

Sebenarnya perusahaan melakukan pemasangan iklan di televisi yang biayanya tidak sedikit ini, merupakan salah satu langkah perusahaan dalam penyampaian komunikasinya kepada target pasar yang dirasakan mulai lemah penetrasinya jika hanya mengandalkan agen-agen yang selama ini bergerilya.

Bagi sebuah perusahaan, penerapan strategi agar perusahaan dapat terus sustainable sangatlah penting. Di era Horizontal marketing pada saat ini, kebanyakan pelanggan akan terus melakukan kroschek and re-check sampai Ia mendapatkan informasi yang dirasa akurat.

Dalam perusahaan yang menerapkan strategi MLM aktivitas komunikasi satu arah seperti iklan digunakan untuk menarik perhatian calon pelanggan dan penjelasan lebih mendalamnya diperoleh melalui agen-agen mereka yang telah eksis selama ini.

Jadi, menurut saya pribadi jika perusahaan MLM yang dahulu terkenal dalam kampanye memotong jalur distribusi dan biaya periklanan, pada saat ini harus direvisi ulang. Misalnya, mengoptimalkan promosi untuk membantu para agen dengan tidak mengurangi pendapatannya.

Multi Level MarketingMember get Member atau strategi lain dengan nama yang berbeda namun serupa hanya sebagian kecil dari segudang besar strategi marketing di Dunia ini.
Read Post | comments
Posted by: Eko Marwanto, Updated at: 05:59

Ketoprak Malam Rawamangun "gelap-gelap tetap rame"

Tuesday, 14 May 2013

Laper melanda, setelah bantu-bantu dan mengamati proses akreditasi D3 STBA Pertiwi kampus Cililitan, sampai di markas Rawamangun perut udah dadangdutan keroncongan gak jelas. Minta tolong office boy untuk beliin nasi goreng, tapi Aris sang office boy mau ngapel dulu malem tadi.

Jalan sendiri keluar, melihat tukang nasi goreng yang dekat markas tidak ada, langsung teringat tukang ketoprak yang selalu ramai di Rawamangun yang lokasinya juga tidak terlalu jauh dengan markas. Ketoprak malam yang gelap-gelap tetap ramai ini berlokasi di belakang terminal Rawamangun sebelum alfamart dan setelah tikungan jalan Sunan Sedayu.

Selalu lihat ramai pada waktu sore hari, karena saya datang sudah mau menjelang jam 9 maka pasien ketopraknya juga sudah lumayan sepi, hanya ada 2 wanita yang masih mengantri dan 4 pria yang mengantri namun dengan duduk santai.

Saya masuk kloter kedua bersama 4 pria yang sedang menunggu tersebut, proses pembuatannya langsung 4 piring, manual semua, "Pak de" Sebutan saya untuk bapak tukang ketoprak tersebut mengulek dengan semangat 45, empat piring ketoprak membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit.

Dengan harga Rp. 8.000 kita sudah mendapatkan ketoprak dengan porsi segambreng, tak heran memang jika ketoprak pak de tersebut ramai sangat. Malah pembeli yang berbarengan dengan saya ada yang berpasangan namun hanya membeli satu porsi saja, mungkin nanti untuk di makan berdua, soalnya setelah saya berjuang memakannya di markas, terasa sangat engabb sekali.

"Content is King" Merupakan istilah populer dalam dunia publikasi website, sebagus apapun strategi search engine optimization dan marketing yang dilakukan, bila websitenya sendiri tidak memiliki konten yang bagus malah banyak pengunjung yang kecewa karena merasa diarahkan ke website yang tidak mutu, maka tidak akan ada kunjungan kembali dari para pengunjung sebelumnya.

Sama halnya dengan jualan, ketoprak rawamangun yang mangkal di tempat gelap tapi tetap ramai pembeli karena konten ketopraknya memang sesuai dengan apa yang diharapkan pembeli, baik itu kualitas maupun kuantitas, dengan harga Rp. 8.000 kuantitas yang banyak dan rasa yang lumayan sudah bisa mengisi perut sampai pagi hari.

Pelajaran yang dapat di ambil adalah dalam setiap bisnis saat ini harus tetap menjaga kualitas barang yang di jual, baik produk maupun jasa. Selain konsumen yang semakin cerdas, pada saat ini persaingan juga semakin sengit. Berikan yang terbaik bagi pelanggan kita, kalau bisa berikan melebihi apa yang mereka harapkan, sehingga melebihi kurva kepuasan pelanggan, dan dijamin selain pelanggan tersebut akan kembali lagi Ia juga akan merekomendasikan kepada teman-teman yang lain.
Read Post | comments
Posted by: Eko Marwanto, Updated at: 19:30

Buku Bografi Jakob Oetama

Saturday, 11 May 2013

Berawal dari voucer belanja di gramedia Rp. 100.000 yang didapat dari imbalan mengisi survey online. Kemarin langsung saja niat ke Gramedia Citraland untuk cari-cari buku bagus. Berhubung sekarang lagi kerja sebagai marketing perguruan tinggi, langsung cari buku tentang marketing, biar update. Tapi ternyata buku-buku keluaran Markplus yang biasanya saya tunggu untuk dbeli, kali ini dilihat secara seklias, isinya tidak ada yang update, semuanya masih membahas horizontal marketing, pengembangan dari perubahan nine core element ke New Wave Marketing 12 C's.

Sempat melihat buku yang judulnya "strategi marketing jasa pendidikan" Tapi, setelah dilihat sekilas isinya, langsung aja dalam hati bicara "kok isinya sama dengan apa yang akan saya ingin terapkan di tempat saya bekerja yah?" Intinya isinya yang mengenai marketing tidak ada strategi yang berbeda dengan buku-buku rujukan, yang mana buku-buku rujukannya saya sudah pernah baca, yang membedakan dalam strategi marketing jasa pendidikan memang harus menguatkan terlebih dahulu jasa yang akan diberikan baik content maupun aspek legal atau pengakuan dari pemerintah.

Setelah muter-muter bingung jadinya voucer ini mau dibelikan buku apa, tidak sengaja melihat tumpukan buku biografi, beberapa buku memampang orang-orang yang mukanyasering muncul di televisi karena urusan politiknya, namun ada satu buku yang membuat saya tertarik karena dalam buku tersebut terpam[ang wajah seseorang yang namanya dikenal karena sebuah media besar yang berhasil ia bangun sejak lama.

Buku tersebut berjudul "Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama" Buku tersebut menarik perhatian saya karena berada di tengah-tengah buku biografi para politikus yang sengaja buunya tercecer di toko buku, untuk meningkatkan popularitas menjelang pemilihan presiden Indonesia tahun 2014.

"Jakob Oetama?" Sejenak saya berfikir, Wah.. Mengapa tidak saya membaca biografi seseorang yang berhasil mengembangkan media cetak (KOMPAS) yang telah memeberikan banyak informasi dan pencerahan kepada masyarakat luas.

Pendiri Surat Kabar Kompas. Jakob Oetama lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931, dia merupakan wartawan dan salah satu pendiri surat kabar Kompas. Jakob adalah putra seorang pensiunan guru di Sleman, Yogyakarta. Setelah lulus SMA (Seminari) di Yogyakarta, ia mengajar di SMP Mardiyuwana (Cipanas, Jawa Barat) dan SMP Van Lith Jakarta. Tahun 1955, ia menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta. Jakob kemudian melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Sosial Politik UGM Yogyakarta. Karir jurnalistik Jakob dimulai ketika menjadi redaktur Mingguan Penabur tahun 1956. Pada April 1961, Ojong mengajak Jakob membuat majalah baru bernama Intisari, isinya sari pati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Majalah bulanan Intisari terbit pertama kali Agustus 1963.

Untuk menjalani hidup sebagai wartawan, Jakob bergaul akrab dengan kalangan wartawan seperti Adinegoro, Parada Harahap, Kamis Pari, Mochtar Lubis, dan Rosihan Anwar. "Dalam soal-soal jurnalistik, Ojong itu guru saya, selain Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar," katanya. Di mata Jakob, Ojong kuat di bidang humaniora dan kuat dalam prinsip nilai-nilai kemajuan. Mochtar Lubis sosok yang berani dan memegang teguh prinsip, sedang Rosihan Anwar kuat dalam persoalan humaniora. Majalah Intisari kemudian diperkuat oleh teman-teman Jakob-Ojong dari Yogyakarta seperti Swantoro dan J Adisubrata. Menyusul kemudian Indra Gunawan dan Kurnia Munaba.

Bersama P.K OJONG ,Jacob oetama pada tahun 1963 mendirikan majalah intisari.majalah ini berkiblat pada majalah reader’sdigest yang berasal dari amerika. selanjutnya kisah sukses intisari dilanjutkan dengan mendirikan sebuah Koran harian yang di beri nama KOMPAS.hal ini terjadi pada tahun 1965,dimana pada masa itu Indonesia sedang di sibukan oleh ancaman pemberontakan PKI.

Sejak awal 1960-an, Auwjong dan Jakob keduanya sama-sama menjadi pengurus Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Juga pernah sama-sama jadi guru dan punya minat besar pada sejarah. Seperti Star Weekly, Intisari melibatkan banyak ahli. Di antaranya ahli ekonomi Prof. Widjojo Nitisastro, penulis masalah-masalah ekonomi terkenal Drs. Sanjoto Sastromihardjo, atau sejarawan muda Nugroho Notosusanto. Saat itu, pergaulan Auwjong sudah sangat luas. Dia berteman baik dengan Goenawan Mohamad, Arief Budiman, Soe Hok Gie, dan Machfudi Mangkudilaga. Intisari terbit 17 Agustus 1963. Seperti Star Weekly, ia hitam-putih dan telanjang, tanpa kulit muka. Ukurannya 14 X 17,5 cm, dengan tebal 128 halaman. Logo "Intisari"-nya sama dengan logo rubrik senama yang diasuh Ojong di Star Weekly. Edisi perdana yang dicetak 10.000 eksemplar ternyata laris manis.

Saling membantu, berkantor sama, bahkan wartawannya pun merangkap. Setelah beberapa pengurus Yayasan Bentara Rakyat bertemu Bung Karno, beliau mengusulkan nama "Kompas". Pengurus yayasan - I.J. Kasimo (Ketua), Frans Seda (Wakil Ketua), F.C. Palaunsuka (Penulis I), Jakob Oetama (Penulis II), dan Auwjong Peng Koen (bendahara) - setuju. Mereka juga menyepakati sifat harian yang independen, menggali sumber berita sendiri, serta mengimbangi secara aktif pengaruh komunis, dengan tetap berpegang pada kebenaran, kecermatan sesuai profesi, dan moral pemberitaan. Sesuai sifat Auwjong yang selalu merencanakan segala sesuatunya dengan cermat, kelahiran Kompas disiapkan sematang mungkin.

 Dari perkembangan kompas inilah,kemudian berdirilah kelompok usaha KOMPAS GRAMEDIA. gramedia adalah nama yang di gunakan untuk member label pada usaha toko buku.hingga kini kelompok kompas gramedia dibawah kendali Jacob oetama sudah melebarkan sayapnya di bebagai bidang usaha.termasuk diantaranya mengelola bisnis hotel serta sempat berkiprah didunia jurnalistik pertelevisian.

Dibawah kepemimpinan Jacob oetama telah terjadi metamorfosis pers dari pers yang sektarian menjadi media massa yang merefleksikan inclusive democracy. Pengalaman kerja di bidang jurnalisme dimulai dari editor majalah Penabur, Ketua Editor majalah bulanan Intisari, Ketua Editor harian Kompas, Pemimpin Umum/Redaksi Kompas, dan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia. Sejumlah karya tulis Jacob Oetama, antara lain, Kedudukan dan Fungsi Pers dalam Sistem Demokrasi Terpimpin, yang merupakan skripsi di Fisipol UGM tahun 1962, Dunia Usaha dan Etika Bisnis (Penerbit Buku Kompas, 2001), serta Berpikir Ulang tentang Keindonesiaan (Penerbit Buku Kompas, 2002).

 Jacob juga berkiprah dalam berbagai organisasi dalam maupun luar negeri. Beberapa diantaranya pernah menjadi Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Anggota DPR Utusan Golongan Pers, Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia, Anggota Dewan Penasihat PWI, Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journaux (FIEJ), Anggota Asosiasi International Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawai.

Jakob Oetama adalah penerima doktor honoris causa ke-18 yang dianugerahkan UGM setelah sebelumnya gelar yang sama dianugerahkan UGM kepada Kepala Negara Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah. Promotor Prof Dr Moeljarto Tjokrowinoto dalam penilaiannya menyatakan, jasa dan karya Jakob Oetama dalam bidang jurnalisme pada hakikatnya merefleksikan jasa dan karyanya yang luar biasa dalam bidang kemasyarakatan dan kebudayaan. Ia juga telah memberikan pengaruh tertentu kepada kehidupan pers di Indonesia. Dalam pertimbangannya, UGM menilai Jacob Oetama sejak tahun 1965 berhasil mengembangkan wawasan dan karya jurnalisme bernuansa sejuk, yaitu "kultur jurnalisme yang khas", wawasan jurnalistik yang berlandaskan filsafat politik tertentu. Kultur jurnalisme itu telah menjadi referensi bagi kehidupan jurnalisme di Indonesia.
Read Post | comments
Posted by: Eko Marwanto, Updated at: 09:46

Apakah Anda Mengenal Si Aqua

Friday, 3 May 2013


Siapa orang Indonesia yang tidak mengenal Aqua? Merk ini sangat dikenal masyarakat di seluruh daerah dari perkotaan sampai dengan pedesaan. Aqua menjadi pelopor air minum dalam kemasan di Indonesia, hal ini didasarkan ide Tirto Utomo selaku melihat peluang dalam industri air minum. Saat itu di Indonesia kekurangan air bersih siap minum. Hal ini disadarinya ketika istri salah satu kenalannya yang merupakan ekspatriat sakit setelah minum air di Indonesia. Kalangan ekspatriat adalah pasar yang dapat langsung dilayani produk Aqua. Saat itu banyak orang asing yang datang ke Indonesia tidak berani minum minuman dingin. Memang hanya terdapat air yang dimasak sendiri untuk minum.

Pada masa awal, Aqua menetapkan target segmen orang asing yang sedang makan di tempat makan Jakarta. Restauran dan hotel membeli Aqua dalam kemasan beling. Penjualan mencapai 2.5 juta liter pada tahun 1980, tetapi saat itu perusahaan belum memiliki jaringan distribusi untuk kemasan ini untuk wilayah di luar Jakarta. Perusahaan mengambil langkah antisipasi mengenai hal ini dengan menggunakan kemasan sekali pakai. Dengan kemasan ini, Aqua mengalami peningkatan penjualan terutama untuk wilayah operasional luar Jakarta. Kemasan diubah kembali diubah kembali dengan memakai bentuk lingkaran. Bentuk yang baru ini memungkinkan kemasan Aqua lebih mudah disimpan dan secara dramatis memperbaiki penampilan kemasan produk.

Pada tahun 1985, Aqua memulai kompetisi dengan minuman ringan. Kompetisi ini ditandai saat Aqua mulai memperkenalkan kemasan 220 ml. Kemasan ini yang sangat mendongkrak penjualan, dalam waktu setahun Aqua mencapai penjualan 42 juta liter dalam produk air kemasan.

Aqua kembali memperkenalkan kemasan baru pada tahun 1987. Kemasan terbuat dari bahan PET dan memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan kemasan sebelumnya seperti:

Bahan kemasan baru memiliki tingkat kejernihan lebih baik, bahan ini membuat air dalam kemasan terlihat jauh lebih bening
Ruang masuk untuk gas lebih sedikit, hal ini membuat isi kemasan lebih toleran pada perubahan atmosfer sekitar kemasan
Kemasan lebih kuat dan tahan lama
PET memberikan dampak yang lebih sedikit pada lingkungan daripada kemasan sebelumnya
Keberhasilan pemasaran perusahaan dimulai saat penentuan nama merk. Tirto memberi Aqua yang diambil dari bahasa latin yang berarti air. Di satu pihak, para orang asing yang datang Indonesia dapat mengerti makna Aqua dan di lain pihak dapat diterima dengan baik di kalangan orang Indonesia. Nama ini dianggap netral dan tidak menyerupai salah satu bahasa daerah yang digunakan di negara kita. Selain itu, nama Aqua cukup mudah diucapkan oleh orang-orang dari berbagai suku.

Image sangat penting di sini karena Aqua menyediakan air tanpa rasa dan manfaat seperti minuman berenergi. Oleh karena itu perusahaan harus berusaha keras untuk membangun image perusahaan. Pertama kali perusahaan memakai slogan “bersih, bening, dan bebas bakteri” pada empat tahun pertama. Namun slogan ini tidak banyak membantu kinerja perusahaan. Pada tahun 1979, Aqua mengganti slogannya menjadi “air sehat setiap saat”, slogan inilah yang lebih efektif memberikan dampak signifikan bagi perusahaan.

Meski awalnya hanya menargetkan konsumen kalangan ekspatriat, setelah dilakukan tes pasar berbagai kalangan masyarakat ternyata bersedia untuk membeli produk perusahaan. Hasil tes cukup mengejutkan karena respon positif juga datang dari konsumen di terminal-terminal bus, daerah pinggiran, dan kota kecil di sebagian wilayah Indonesia. Hasil tes ini memberikan kepercayaan diri perusahaan untuk menjual produk. Peforma baik operasionalisasi perusahaan menjadikan Aqua pemimpin pasar pada kategori air minum dalam kemasan sampai saat ini.

Artikel ini diadaptasi dari buku Cases in Strategy Management terbitan Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada
Read Post | comments
Posted by: Eko Marwanto, Updated at: 22:09

Pedoman Hidup Johnson & Johnson


Johnson & Johnson dikenal sebagai perusahaan yang memperhatikan kebutuhan konsumen terutama dari kalangan yang telah berkeluarga. Perusahaan menyediakan produk farmasi dan kesehatan. Johnson dan Johnson membangun merknya agar bisa dipercaya dengan konsumen. Ini semua adalah hasil komitmen perusahaan dalam memperbaiki reputasi selama bertahun-tahun. Lebih dari 60 tahun Johnson & Johnson memiliki dan mempraktekan panduan yang menjadi tanggung jawab baik dari perusahaan dan juga secara individual karyawan.

Hal ini tercermin dari hasil survei yang dikeluarkan oleh The Reputation  Institute yang menyurvei puluhan ribu konsumen. Johnson & Johnson menjadi perusahaan dengan reputasi terbaik di Amerika. Reputasi perusahaan menjadi aset perusahaan dan dijaga dengan hati-hati. Setiap aspek dalam perusahaan dijalankan sesuai dengan prinsip yang disebut Credo.

Perusahaan menganggap nama perusahaan bukan sebagai “trademark” tetapi sebagai “trustmark” yang dikenal di semua penjuru dunia. Reputasi ini dibangun jauh sebelum perusahaan dibangun, rasa “trust” mulai melekat pada salah satu pendiri perusahaan, Robert Wood Johnson.

Pada sekitar tahun 1870-an, dalam melakukan operasi pelayan kesehatan seringkali memakai pakaian sehari-hari dan saat melakukan operasi pun seringkali mereka melakukannya telanjang tangan. Pada saat itu banyak pasien yang meninggal karena mengalami infeksi pasca operasi. Saat itu para dokter tidak mempercayai bila kematian pasien karena peralatan dan lingkungan operasi yang tidak steril. Sampai pada tahun 1876, Robert Wood Johnson mulai membiasakan diri memakai perlengkapan operasi yang lebih steril.

Beberapa tahun kemudian di tahun 1885, Robert bergabung dengan dua saudaranya yang memiliki usaha alat kesehatan. Mereka kemudian mulai membangun perusahaan dan memberi nama Johnson & Johnson. Tidak lama kemudian, perusahaan membuat pakaian operasi dan mengirimkannya ke rumah sakit, toko obat, dan doktor di semua daerah di negara. Ini adalah visi pertama Robert untuk memperbaiki kesehatan untuk pasien. Ilmuwan perusahaan melanjutkan pencarian dan pengembangan sterilisasi perusahaan.

Perusahaan mulai masuk ke pasar konsumen pada tahun 1893. Sejak awal, citra merk difokuskan pada pasar bayi dan ibunya. Secara konsisten pencitraan ini dilakukan dan seratus tahun kemudian image perusahaan sangat melekat dengan lini produk seputar perangkat perawatan bayi. Kredo yang telah disebutkan sebelumnya mulai dibuat dan diberlakukan mulai pada tahun 1932. Kredo terdiri dari 308 kata berisipernyataan yang diukirkan pada batu yang terletak di markas utama perusahaan.

Kredo menjadi hati dari perusahaan untuk menjaga dan memperbaiki reputasi perusahaan setiap tahunnya. Menjaga reputasi perusahaan adalah prioritas utama yang harus dilakukan perusahaaan. Kredo juga merupakan patokan perusahaan untuk melakukan desentralisasi. Karena memegang kredo dengan baik, desentralisasi didasarkan dari rasa saling percaya. Setiap pegawai diberi kebebasan untuk melakukan sesuatu agar dapat berhasil namun membeli toleransi juga bila mengalami kegagalan.

Johnson & Johnson bukan hanya sekadar nama perusahaan tetapi telah menjadi karakter perusahaan. Kredo tidak lagi hanya sekadar panduan tetapi menjadi patokan cara hidup menjalankan bisnis perusahaan. Mereka telah melakukan hal ini secara bertahun-tahun secara konsisten sehingga hal ini menjadi salah satu identitas terkuat perusahaan.

Artikel ini diadaptasi dari buku The Best of Branding karangan James R. Gregory
Read Post | comments
Posted by: Eko Marwanto, Updated at: 21:19

Acer Ya Taiwan


Kesulitan Acer pada masa awal pendirian mungkin dialami banyak produsen dari negara-negara berkembang. Stan Shih, menghadapi image buruk produk negara Taiwan pada masa itu yang banyak diperpsepsikan sebagai produk murah dengan kualitas buruk. Ia mendirikan perusahaan pada tahun 1976 dengan modal awal 25.000 dollar. Ia langsung menghadapi permasalahan kredibilitas produk. Menghadapi tantangan dengan anggapan produk inferior, Stan berusaha keras membangun reputasi perusahaan sebagai produsen yang memiliki kualitas baik.

Persepsi akan produk kualitas rendah ini membuat Acer kesulitan untuk menembus pasar internasional. Untuk mengatasinya, perusahaan berusaha mendapatkan sertifikasi ISO 9000 dan memenangkan berbagi penghargaan untuk kualitas dan desain. Kendala lain adalah letak geografis dari pabrik. Produk Acer banyak dirakit di kawasan Asia sementara perusahaan berusaha menembus pasar Eropa dan Amerika. Hal ini tentu akan mempengaruhi distribusi produk yang memakan waktu lebih lama dibanding kompetitor yang berlokasi di sekitar negara-negara tersebut. Saat itu perusahaan tidak memiliki pengalaman mengelola bisnis di negara lain ditambah lagi perusahaan belum memiliki karyawan dengan pengalaman internasional.

Perusahaan kemudian membuat Corporate Identity System (CIS) yang bertujuan untuk mengangkat image merk dan langkah globalisasi perusahaan. Pada tahun 1987, diperkenalkanlah nama “Acer” sebagai merek global perusahaan. Acer sendiri diambil dari bahasa latin yang berarti aktif, tajam, pintar, dan jelas. Perusahaan berusaha membangun budaya perusahaan dengan kombinasi dari arti-arti tersebut.  Nama Acer ini diproyeksikan sebagai jalan tol bagi perusahaan untuk menembus pasar di semua negara di dunia. Acer terdiri dari dua suku kata, mudah diucapkan dan diingat, dengan huruf “A” nama perusahaan akan muncul terlebih dahulu di berbagai indeks berdasarkan alfabet. Nama ini juga mudah didaftarkan di lebih dari 100 negara di dunia dan perusahaan juga telah memastikan bahwa nama tersebut tidak memiliki konotasi negatif pada negara-negara target.

Dalam mempromosikan merk, Acer bekerja sama dengan pemerintah dan pihak swasta lainnya. Promosi ini juga bertujuan untuk memperbaiki persepsi barang buatan Taiwan dan memperkuat nama produksi asal Taiwan di mata dunia. Dari segi produk, Acer berhasil mengeluarkan produk-produk tercanggih di kelasnya dalam beberapa kesempatan. Contohnya pada tahun 1986, Acer mengeluarkan komputer dengan terobosan teknologi sebelum IBM, perusahaan juga berhasil mengeluarkan prosesor terefisien di dunia pada tahun 1991. Di kala itu, Acer juga berhasil memenangkan penghargaan dalam ajang Asia Innovator Award.

Acer juga menjalin aliansi strategis untuk meningkatkan tingkat awareness merk perusahaan. Acer bekerja sama dengan pabrik semi conductor asal Texas, perusahaan elektronik asal Jerman (anak perusahaan Daimler Benz Group, dan lainnya. Perusahaan juga membentuk tim untuk merancang program PR dan periklanan yang bertujuan untuk menarik perhatian media seiring dengan investasi waktu dan dana dalam komunikasi dan promosi dari perencanaa, komunikasi, dan tujuan perusahaan.

Artike ini diadaptasi dari buku Cases in Marketing Management and Strategy karangan John A. Quelch, Siew Meng Leong, Swee Hoon Ang, dan Chin Tiong Tan
Read Post | comments (1)
Posted by: Eko Marwanto, Updated at: 08:52

Menciptakan Budaya Dari Sebuah Brand VW Beetle


Salah satu merek dan model mobil yang paling legendaris sampai dengan saat ini adalah VW Beetle (di Indonesia kita kenal dengan nama VW Kodok). Sebagai catatan, pada tahun 1968 VW Beetle meraih penjualan sebesar 423.000 unit di Amerika. Salah satu angka penjualan terbaik yang pernah dicapai mobil melebihi Model-T dari Ford. VW Beetle mungkin menjadi salah satu simbol kesuksesan di dunia bisnis Amerika. Bentuknya yang unik dengan mudah dapat ditemui selama lebih dari 20 tahun dalam iklan, budaya, atau produknya di jalanan.

Selama tahun 1950-an, Beetle menjadi mobil yang tangguh, reliabel, dan ekonomis. Mobil ini laris karena memiliki desain yang unik, dibuat dengan teknik yang baikdan didukung dengan sistem pelayanan yang prima. Pada masa awal, promosi kendaraan dilakukan dari mulut ke mulut dikombinasikan dengan daya tahan serta performa yang tangguh. Karena kemampuan ini, VW Beetle kerap kali digunakan dalam berbagai perlombaan saat itu.

Pada tahun 1960-an, Bettle mempresentasikan pengendara mobil mulai dari tipenya sampai dengan life style yang dimiliki. Pemilik mobil ini bukanlah orang yang materialistis dan mementingkan status semata. Pemilik berani mengendarai mobil yang “buruk rupa”, funky, memperlihatkan kebebasan, memiliki jiwa muda, dan senantiasa memakai pemikiran logis. Mungkin Anda sadar sebelum kalimat ini dituliskan “buruk rupa”. Situasinya, pada saat itu banyak orang menganggap VW Beetle memiliki model buruk karena memiliki desain yang sangat berbeda dengan desain mobil saat itu pada umumnya.

Budaya Beetle pada tahun 1960-an terjadi karena iklan yang dibuat oleh Doyle Dane Bernbach (DDB). Pada iklan cetaknya pada 1960, menunjukan gambar besar mobil dengan headline yang profokatif. Sebagai contoh salah satu iklan memperlihat kepulan asap yang keluar dari radiator (Beetle memiliki pendingin udara dan mesin yang terletak di belakang) dan dilengkapi dengan kata-kata “Impossible” dengan headline “Nobody’s perfect”. Dua iklan terkenal lainnya juga muncul dengan headline “Think Small” dan “Lemon”.

Iklan “Lemon” adalah salah satu iklan ekstrim dimana dalam iklan tersebut ditunjukan bahwa sebanyak 3.389 pemeriksa di pabrik menemukan goresan kecil pada mobil yang baru selesai diproduksi. Iklan ini mencoba menunjukan bahwa inspeksi pada VW adalah salah satu alasan mengapa mobil ini tahan lama dan membutuhkan biaya yang lebih rendah bila dibandingkan dengan mobil lainnya.

Budaya VW Beetle mempengaruhi kehidupan banyak orang di luar dunia periklanan. Ada banyak sekali lelucon seputar VW, stiker-stiker dengan bentuk atau kata-kata yang membawa merek perusahaan, dan kontes seperti pemecahan rekor jumlah orang masuk mobil (rekor 103 orang). VW Beetle juga merambah dunia film, salah satu film berjudul “The Love Bug” secara khusus menghadirkan VW Beetle sebagai bintang tamu dan film ini adalah salah satu fim terlaku di pasaran pada tahun 1969. Selain itu VW Beetle sering ditampilkan dalam berbagai film selama bertahun-tahun ke depan.

Artikel ini diadaptasi dari buku Managing Brand Equity karangan David A. Aaker
Read Post | comments
Posted by: Eko Marwanto, Updated at: 08:38
 
© Copyleft masih blogger 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all